Artikel Syariah

Artikel Syariah (307)

Apakah Bank Syariah dalam rangka untuk menyelesaikan suatu perkara, dapat memberikan uang jasa?

Opini DPS:

  1.     Pada dasarnya sesuatu yang terlarang/haram tetap terlarang/haram. Tetapi jika berada pada suatu kondisi yang bersifat darurat, maka diperbolehkan dengan adanya rukhsah (keringanan).
  1.     Jika “uang jasa” dilakukan dalam rangka memperoleh haknya kembali atau untuk kemashlahatan umat yang lebih besar, maka sesuatu yang dilarang diperbolehkan. Namun perlu diteliti benar-benar apakah kondisinya sudah demikian darurat dan sudah tidak ada alternatif lainnya.
  1.     Jika terpaksa dilakukan, maka harus ada pembatasan, sehingga tidak terjadi penyelesaian dengan cara “uang jasa” tersebut secara berulang-ulang.
  1.     Alternatif lainnya adalah Bank Syariah cukup berurusan melalui pengacara dengan membayar total dana/biaya operasional untuk pengacara. Untuk penggunaan serta operasionalnya, diserahkan kepada Pengacara tersebut.

 

Apakah diperbolehkan memberikan pembiayaan pada Koperasi Karyawan Bank Konvensional ?

Opini DPS:

1. Bahwa seorang muslim yang bekerja di Lembaga Keuangan Konvensional (LKK) merupakan keadaan darurat.

2. Agar dihindari Bank Syariah melakukan penjualan secara proaktif atau menjadikan Kopkar LKK (termasuk Asuransi) sebagai target market.

3. Jika Kopkar yang bersifat proaktif mengajukan pembiayaan kepada Bank Syariah, maka Bank Syariah dapat memberikan pembiayaan dengan jangka waktu sesuai dengan jangka waktu kondisi darurat tersebut.

Tidak sedikit masyarakat yang berpendapat bahwa produk yang ditawarkan perusahaan MLM sangat mahal dan terlalu eksklusif, sehingga kerap kali memberatkan anggota yang berada di level bawah (down line) serta masyarakat pemakai dan sangat menguntungkan level di atasnya (up line). Seringkali harga produk dimark up sampai dua bahkan tiga kali lipat dari harga yang sepatutnya. Hal ini seharusnya dihindari, karena cara ini adalah mengambil keuntungan dengan cara yang bathil, karena mengandung unsur kezaliman, yakni memberatkan masyarakat konsumen.

Penetapan harga yang terlalu tinggi dari harga normal, sehingga memberatkan konsumen, dapat dianalogikan dengan ghabn, yaitu menjual satu barang dengan harga tinggi dari harga pasar.

PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk. (Bank Muamalat) mendapatkan tiga penghargaan dari Majalah Economic Review dan Perbanas Institute, Rabu (23/8), di Hall Kantor Berita Republik Indonesia (KBRI) Singapura.  Tiga penghargaan yang diberikan yaitu, pertama, Bank Syariah Tbk. Terbaik di Indonesia-2017 Peringkat I untuk kategori Buku 2 dengan aset Rp 25 triliun ke atas dari Anugerah Perbankan Indonesia-VI-2017 (APBI).

Kedua, Peringkat Pertama untuk kategori Anugerah Perusahaan TBK Indonesia-IV-2017 (APTI-IV-2017). Ketiga, penghargaaan untuk Endy PR Abdurrahman, Direktur Utama Bank Muamalat yang dinobatkan sebagai The Best CEO Perbankan Syariah Indonesia 2017.

Endy menegaskan penghargaan ini merupakan apresiasi terhadap kinerja Bank Muamalat dalam memberikan layanan perbankan terbaik kepada masyarakat. “Penghargaan ini sekaligus menjadi tolok ukur dan motivasi kami untuk senantiasa meningkatkan performa dalam berbagai aspek dan mempertahankan komitmen untuk memberikan layanan dan produk-produk terbaik kepada nasabah," kata Endy.
(Untuk meningkatkan citra perusahaan di mata customer, silakan ikuti Pelatihan Service Excellence)



Membuat keputusan untuk memecahkan masalah selalu dilatabekangi bayang-bayang kepastian, ketidakpastian, dan risiko. Umumnya manajer mengambil keputusan berdasarkan pengalaman. Saran paling baik : Jangan menunggu sampai problem muncul.

Deciding not to decide is a decision. Ini salah satu kiat para manajer. Tapi itu jarang terjadi. Sekecil apapun suatu masalah selamanya akan disusul dengan pengambilan keputusan dalam bentuk tindakan nyata. Menelorkan keputusan adalah tugas pokok seorang manajer.

Proses pengambilan keputusan memang selalu diwarnai tiga faktor tadi. Di bawah kondisi yang pasti, boleh dibilang tidak ada kendala yang merintangi. Anda disuguhi informasi yang akurat, hal-hal yang dapat diraba dengan perangkat ukur yang berlaku sehingga hasil dari keputusan itu seakan terlihat jelas. Contoh, dalam keadaan pasar yang normal maka setiap penamabahan stok gudang sebanyak 20% akan terjadi peningkatan penjualan 5%.

Karyawan adalah salah satu aset perusahaan. Sebagai atasan, Anda tentu sangat memahami hal tersebut. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk membina dan melatih karyawan. Tujuan utama dari pelatihan karyawan adalah menjaga aset dan keberlangsungan perusahaan Anda. Percayakah bahwa Anda dapat mencetak pekerja hebat melalui pelatihan karyawan? Ada berbagai metode pengembangan karyawan, salah satunya adalah melalui pelatihan. Pelatihan karyawan berpeluang besar untuk mencetak karyawan seperti yang Anda inginkan. Peliharalah aset perusahaan Anda, jangan sampai Anda menyesal karena tidak menginvestasikan waktu dan uang untuk mereka.

Untuk membantu Anda mengadakan pelatihan karyawan, berikut 7 tips yang sebaiknya Anda lakukan.

1. Pahami bahwa pelatihan karyawan itu sangat penting

Ada beberapa tips yang moga bermanfaat bagi Anda yang sedang mencari kerja.

1- Pahamilah, Setiap Jiwa Tidak Akan Mati Sampai Rezekinya Sempurna

Ingat, setiap jiwa tidak akan mati sampai rezekinya sempurna. Kalau sudah ada jaminan demikian, setiap yang bekerja teruslah bekerja, jangan khawatir dengan jatah rezekinya.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

 

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, dulu pernah menjabat sebagai ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa di Saudi Arabia), ditanya,

“Apa hukum gaji yang didapatkan oleh pegawai bank dalam bentuk umum/konvensional, halal ataukah haram? Saya sendiri mengetahui bahwa hukumnya adalah haram karena bank konvensional selalu bermuamalah dengan riba. Kami mengharap nasehat darimu, karena kami ingin melamar bekerja di salah satu bank konvensional.”

Jawaban:

Pembahasan ini amatlah urgent bagi setiap orang yang hendak terjun di dunia bisnis atau yang ingin bermuamalah dalam penukaran uang (valas). Jika ia sudah memahami hal ini, ia akan memahami kenapa syari’at Islam yang mulia memasukkan suatu hal ke dalam transaksi ribawi. Ini semua karena syari’at yang indah ini dibangun di atas kemaslahatan dan ingin mencegah bahaya. Bahasan ini adalah bahasan sekitar jual beli uang (valas) dan emas, yang di mana ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi dalam jual beli tersebut. Moga bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Ketika Uang Menjadi Komoditi Dagang

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,

“(Mata uang) dinar dan dirham asalnya bukan untuk dimanfaatkan zatnya. Tujuannya adalah sebagai alat ukur (untuk mengetahui nilai suatu barang). Dirham dan dinar bukan bertujuan untuk dimanfaatkan zatnya, keduanya hanyalah sebagai media untuk melakukan transaksi. Oleh karena itu fungsi mata uang tersebut hanyalah sebagai alat tukar, berbeda halnya dengan komoditi lainnya yang dimanfaatkan zatnya.” (Majmu’ Al Fatawa, 19/251-252)

Syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanya:

Apakah boleh mengambil hadiah dari seseorang yang bermuamalah dengan riba?

Syaikh -rahimahullah- menjawab:

Saya kembali bertanya padamu: Apakah Yahudi biasa memakan riba atau tidak? Jawabannya: iya, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ

Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan) , disebabkan mereka melanggar perjanjian itu.” (QS. An Nisaa’: 155) sampai pada firman Allah,

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ

dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil.” (QS. An Nisaa’: 161)

Page 1 of 22